Sahabat itu
tidak kemana
Oleh Anwar
Malam berlalu, kulihat
awan berkelabu, menemani sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku Awi
tepat dua tahun yang lalu aku teringat sebuah kissh dimana aku ditunjuk oleh
sekolah untuk mengikuti LKS tingkat Provinsi, LKS merupakan lomba sejenis O2SN
tapit terkusus untuk anak-anak sekolah menengah kejuruan. Mewakili sekolah
ketingkat Provinsi menjadi kebanggan bagi diri sendiri dan tentunnya bagi orang
tua, bayangkan saja ketika kuberi tahu akan ke samarinda untuk mengikuti lomba.
terpancar aura bangga dari ayah dan ibu, sebab ini yang pertama anaknya pergi
keluar kota, wajar saja kami merupakan keluarga sederhana. Ayah hanya seorang
nelayan dan ibu mengurusi rumah tangga, tapi tidak menjadi halangan bagi ayah
dan ibu untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. ....
Menginjakan kaki di
sebuah Universitas besar yang orang sering menyebutnya Universitas Mulawarman
menjadi kebanggaan tersendiri bagi diriku, sebab lomba LKS pada saat itu
berlangsung disebuah fakultas yang memiliki banyak gedung, banyak mobil
terparkir disitu, ada juga kafenya setelah kucari tahu ternyata aku sedang
berada di fakultas Ekonomi Unmul. Walaupun gagal menjadi yang terbaik tapi
setidaknnya Lomba yang diselenggarakn selama satu hari penuh itu meninggalkan
cerita yang luar biasa, bermula ketika lomba sedang berlangsung, pada saat itu
, aku lupa membawa pulpen didalam ruangan yang sempit lagi panas, dan dikelilingi
orang-orang yang sangat fokus mengerjakan tugasnya, membuat diriku tidak
berfikir untuk mengaganggu seorangpun hanya untuk sekedar meminjam pulpen.
Dengan wajah yang pucat, jantung berdetak laksana genderang mau perang,
keringat bercucuran, membuatku bertambah bingung ketika pengawas ujian
mengatakan waktu mengerjakan tinggal 30 menit. Tiba-tiba kudengar suara kecil
memanggilku, ku palingkan kepala ke kanan, ternyata seorang wanita dengan
jilbab besar, wajahnya putih, hidungnya tidak mancung tidak juga pesek,
menandakan ciri khas orang Indonesia, aku teringat dengan seorang wanita yang
sangat berwibawa ketika berbicara, yaaa
Nur Jannah namanya, rasa kagumku terhadapnya bermula ketika acara
perkenalan kemarin, dia bercerita berasal dari Tarakan dengan segudang
prestasi, pernah ke singapura, mengikuti lomba karya tulis.....
Dia memanggilku “Awi
kenapa...?”. jawabku dengan sedikit malu, “aku lupa membawa pulpen” lalu
sahutnya “kenapa tidak bilang dari tadi, ini pinjam punya saya” segera kuambil
pulpen pinjamannya dan kuucapkan terima kasih....
Tak terasa malam penutupan
pun tiba, malam yang paling ditunggu-tunggu oleh semua peserta, kulihat dari
kejauhan duduk dipaling depang Nur Jannah dengan balutan jilbab putih, baju
biru terlihat bak bidadari, aku merasa malu untuk duduk disampingnya, cukuplah
aku melihatnya dari kejauhan.
setelah diumumkan
pemenangnya. alhamdulillah walaupun tidak menjadi juara tapi menjadi urutan
kelima dari total 12 peserta menjadi kebanggan tersendiri, dan yang lebih
membuatku senang adalah yang mendapat juara terbaik adalah Nur Jannah, seorang
gadis yang cantik lagi baik. Mendengar namanya
menjadi yang terbaik dia langsung sujud syukur, hal yang tidak dilakukan
oleh peserta lain yang mendapat juara. Itulah dia Nur Jannah wanita solehah nan
cerdas,yang diberi karunia dari sang pencipta berupa keindahan paras luar
biasa.
............
Setalah lulus sekolah,
aku kembali menginjakan kaki di Universitas Mulawarman menyandang predikat
sebagai mahasiswa baru Fakultas Ekonomi Unmul, tak terasa empat tahun juga aku
tidak bertemu dengan Nur Jannah, yang aku anggap sebagai sahabat masa lalu.
menjalani hari-hari
sebagai mahasiswa disalah satu fakultas terbesar di Unmul menjadi tantangan
tersendiri ketika kita tidak dapat berprestasi.Pilihanku adalah menjadi
mahasiswa organisasi, menjadi bagian dari badan eksekutif mahasiswa di kampus,
menjadaikanku sering mengadakan kegiatan-kegiatan internal maupun eksternal
kampus, dan tentunya mendapat banyak
kenalan mahasiswa-mahasiswa dari fakultas lain.
Memasuki semester 5,
kegiatan organisasi semakin padat, hal ini tidak terlepas setelah aku terpilih
sebagai wakil ketua BEM Fakultas ekonomi Unmul. 13 januari 2016 mungkin
tanggal yang tidak bisa kulupakan dalam
sejarah perjalan hidupku selama didunia, yaaa pada saat itu BEM Fekon mendapat
kunjungan ke BEM FKIP, kunjungan dilakukan dalam acara silaturahmi serta
perkenalan pengurus BEM FKIP yang baru.
Selaku tuan rumah, aku
ditunjuk untuk jadi moderator, acara penyambutan berlangsung sederhana,
kegiatan yang dilakukan di ODAH fekon itu berlangsung kurang lebih satu jam
lebih, setelah ketua BEM kesmas memperkenalkan pengurusnya, tiba-tiba seorang
wanita dengan jilbab besar, wajahnya putih, hidungnya tidak mancung tidak juga
pesek. buru-buru masuk dengan mengucapkan salam, dengan lembut dia mengatakan..
“maaf saya terlambat’.. mengingatkanku
dengan seseorang yang pernah membantuku pada saat lomba LKS beberapa tahun yang
lalu. sontak Andri selaku ketua BEM Kesmas mengatakan ,, ohh ia perkenalkan ini
Nur Jannah, wakil saya di BEM kesmas,
Mengakhiri pertemuan,
aku segera menghampiri Nur Jannah, seraya bertanya “ Nur Jannah yaa,? Ingat
saya tidak, yang pernah kamu pinjami pulpen, lomba LKS dulu, sahutnya degan
lembut “ Iya kamu Awi kan. saya ingat, tidak mungkin saya lupa’ saya juga dari
tadi sudah menduga bahwa kamu itu Awi yang pernah ikut lomba LKS dulu.
Sejak pertemuan itu,
aku dan Nur Jannah selalu berkomunikasi, kami kini benar-benar menjadi sahabat,
saling tolong menolong ketika ada yang kesusahan, saling berbagi rezeki,
menjadi teman curhat ketika ada masalah, itulah yang namanya sahabat,
mungkin orang sering
berkata “Jodoh itu tidak kemana”, bagiku “Sahabat itu tidak kemana”, sahabat
akan tetap menjadi sahabat walaupun dipisahkan jarak dan waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar