Selasa, 15 November 2016



Sahabat itu tidak kemana
Oleh Anwar

 

Malam berlalu, kulihat awan berkelabu, menemani sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku Awi tepat dua tahun yang lalu aku teringat sebuah kissh dimana aku ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti LKS tingkat Provinsi, LKS merupakan lomba sejenis O2SN tapit terkusus untuk anak-anak sekolah menengah kejuruan. Mewakili sekolah ketingkat Provinsi menjadi kebanggan bagi diri sendiri dan tentunnya bagi orang tua, bayangkan saja ketika kuberi tahu akan ke samarinda untuk mengikuti lomba. terpancar aura bangga dari ayah dan ibu, sebab ini yang pertama anaknya pergi keluar kota, wajar saja kami merupakan keluarga sederhana. Ayah hanya seorang nelayan dan ibu mengurusi rumah tangga, tapi tidak menjadi halangan bagi ayah dan ibu untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. ....
Menginjakan kaki di sebuah Universitas besar yang orang sering menyebutnya Universitas Mulawarman menjadi kebanggaan tersendiri bagi diriku, sebab lomba LKS pada saat itu berlangsung disebuah fakultas yang memiliki banyak gedung, banyak mobil terparkir disitu, ada juga kafenya setelah kucari tahu ternyata aku sedang berada di fakultas Ekonomi Unmul. Walaupun gagal menjadi yang terbaik tapi setidaknnya Lomba yang diselenggarakn selama satu hari penuh itu meninggalkan cerita yang luar biasa, bermula ketika lomba sedang berlangsung, pada saat itu , aku lupa membawa pulpen didalam ruangan yang sempit lagi panas, dan dikelilingi orang-orang yang sangat fokus mengerjakan tugasnya, membuat diriku tidak berfikir untuk mengaganggu seorangpun hanya untuk sekedar meminjam pulpen. Dengan wajah yang pucat, jantung berdetak laksana genderang mau perang, keringat bercucuran, membuatku bertambah bingung ketika pengawas ujian mengatakan waktu mengerjakan tinggal 30 menit. Tiba-tiba kudengar suara kecil memanggilku, ku palingkan kepala ke kanan, ternyata seorang wanita dengan jilbab besar, wajahnya putih, hidungnya tidak mancung tidak juga pesek, menandakan ciri khas orang Indonesia, aku teringat dengan seorang wanita yang sangat berwibawa ketika berbicara, yaaa  Nur Jannah namanya, rasa kagumku terhadapnya bermula ketika acara perkenalan kemarin, dia bercerita berasal dari Tarakan dengan segudang prestasi, pernah ke singapura, mengikuti lomba karya tulis.....
Dia memanggilku “Awi kenapa...?”. jawabku dengan sedikit malu, “aku lupa membawa pulpen” lalu sahutnya “kenapa tidak bilang dari tadi, ini pinjam punya saya” segera kuambil pulpen pinjamannya dan kuucapkan terima kasih....
Tak terasa malam penutupan pun tiba, malam yang paling ditunggu-tunggu oleh semua peserta, kulihat dari kejauhan duduk dipaling depang Nur Jannah dengan balutan jilbab putih, baju biru terlihat bak bidadari, aku merasa malu untuk duduk disampingnya, cukuplah aku melihatnya dari kejauhan.
setelah diumumkan pemenangnya. alhamdulillah walaupun tidak menjadi juara tapi menjadi urutan kelima dari total 12 peserta menjadi kebanggan tersendiri, dan yang lebih membuatku senang adalah yang mendapat juara terbaik adalah Nur Jannah, seorang gadis yang cantik lagi baik. Mendengar namanya  menjadi yang terbaik dia langsung sujud syukur, hal yang tidak dilakukan oleh peserta lain yang mendapat juara. Itulah dia Nur Jannah wanita solehah nan cerdas,yang diberi karunia dari sang pencipta berupa keindahan paras luar biasa.
............
Setalah lulus sekolah, aku kembali menginjakan kaki di Universitas Mulawarman menyandang predikat sebagai mahasiswa baru Fakultas Ekonomi Unmul, tak terasa empat tahun juga aku tidak bertemu dengan Nur Jannah, yang aku anggap sebagai sahabat masa lalu.
menjalani hari-hari sebagai mahasiswa disalah satu fakultas terbesar di Unmul menjadi tantangan tersendiri ketika kita tidak dapat berprestasi.Pilihanku adalah menjadi mahasiswa organisasi, menjadi bagian dari badan eksekutif mahasiswa di kampus, menjadaikanku sering mengadakan kegiatan-kegiatan internal maupun eksternal kampus, dan tentunya mendapat banyak  kenalan mahasiswa-mahasiswa dari fakultas lain.
Memasuki semester 5, kegiatan organisasi semakin padat, hal ini tidak terlepas setelah aku terpilih sebagai wakil ketua BEM Fakultas ekonomi Unmul. 13 januari 2016 mungkin tanggal  yang tidak bisa kulupakan dalam sejarah perjalan hidupku selama didunia, yaaa pada saat itu BEM Fekon mendapat kunjungan ke BEM FKIP, kunjungan dilakukan dalam acara silaturahmi serta perkenalan pengurus BEM FKIP yang baru.
Selaku tuan rumah, aku ditunjuk untuk jadi moderator, acara penyambutan berlangsung sederhana, kegiatan yang dilakukan di ODAH fekon itu berlangsung kurang lebih satu jam lebih, setelah ketua BEM kesmas memperkenalkan pengurusnya, tiba-tiba seorang wanita dengan jilbab besar, wajahnya putih, hidungnya tidak mancung tidak juga pesek. buru-buru masuk dengan mengucapkan salam, dengan lembut dia mengatakan.. “maaf saya terlambat’..  mengingatkanku dengan seseorang yang pernah membantuku pada saat lomba LKS beberapa tahun yang lalu. sontak Andri selaku ketua BEM Kesmas mengatakan ,, ohh ia perkenalkan ini Nur Jannah, wakil saya di BEM kesmas,
Mengakhiri pertemuan, aku segera menghampiri Nur Jannah, seraya bertanya “ Nur Jannah yaa,? Ingat saya tidak, yang pernah kamu pinjami pulpen, lomba LKS dulu, sahutnya degan lembut “ Iya kamu Awi kan. saya ingat, tidak mungkin saya lupa’ saya juga dari tadi sudah menduga bahwa kamu itu Awi yang pernah ikut lomba LKS dulu.
Sejak pertemuan itu, aku dan Nur Jannah selalu berkomunikasi, kami kini benar-benar menjadi sahabat, saling tolong menolong ketika ada yang kesusahan, saling berbagi rezeki, menjadi teman curhat ketika ada masalah, itulah yang namanya sahabat,
mungkin orang sering berkata “Jodoh itu tidak kemana”, bagiku “Sahabat itu tidak kemana”, sahabat akan tetap menjadi sahabat walaupun dipisahkan jarak dan waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar